DALLAS, TONAKODI – Kekalahan Portugal dari Spanyol dengan skor tipis 1-0 pada babak 16 besar Piala Dunia di Dallas Stadium menyisakan drama besar bagi Cristiano Ronaldo. Gol dramatis Mikel Merino pada menit ke 91 memastikan langkah La Roja sekaligus memicu kecaman keras dari publik terhadap performa Bernardo Silva yang dianggap sebagai penyebab kegagalan Selecao das Quinas.

Pertandingan yang berlangsung pada 29/06 ini menjadi panggung pahit bagi Ronaldo yang kini telah menginjak usia 41 tahun. Kekalahan Portugal dari Spanyol tersebut diprediksi menjadi laga terakhir sang mega bintang di kancah internasional karena ia gagal membawa timnya melaju lebih jauh. Sepanjang laga, pertahanan ketat Spanyol membuat lini serang Portugal frustrasi dan sulit menciptakan peluang bersih.

Amarah suporter memuncak setelah pemain pengganti Bernardo Silva gagal memanfaatkan peluang emas melalui sundulan di detik-detik akhir pertandingan. Selain membuang kesempatan menyamakan kedudukan, gelandang tersebut dituding merusak tempo permainan dengan serangkaian pelanggaran tidak perlu. Kekalahan Portugal dari Spanyol ini pun langsung menempatkan Silva sebagai kambing hitam utama di berbagai media sosial.

“Bernardo Silva adalah pemain pengganti terburuk dalam sejarah sepak bola. Dia menghancurkan turnamen Portugal hanya dalam beberapa menit setelah masuk ke lapangan,” tulis salah satu penggemar yang merasa kecewa berat dengan hasil tersebut.

Statistik resmi dari organisasi FIFA menunjukkan bahwa Spanyol tampil lebih dominan dengan penguasaan bola yang sangat terukur. Keberhasilan Mikel Merino memanfaatkan umpan Ferran Torres memastikan sejarah baru bagi Spanyol sebagai tim pertama yang mencatat enam clean sheet berturut-turut. Sementara itu, kubu Portugal harus pulang lebih awal dengan bayang-bayang masa depan tim yang kini penuh ketidakpastian.

Kekalahan Portugal dari Spanyol juga memperpanjang rekor buruk mereka dalam pertemuan sesama negara Iberia di fase gugur turnamen besar. Meski sempat memberikan tekanan di babak kedua melalui aksi Diogo Jota, ketenangan lini tengah Spanyol yang dikomandoi Rodri tetap tidak tergoyahkan hingga peluit panjang berbunyi. Mimpi Ronaldo untuk mengangkat trofi emas pun dipastikan terkubur di tanah Amerika Serikat.